Adjie Purbojati Blog

Chit-Chat

Secangkir Kopi, Pisang Goreng dan Opini Tentang Kudusku

Posted on .

Secangkir Kopi, Pisang Goreng dan Opini Tentang Kudusku

Introduction

Siang ini, disela-sela liburan akhir semester perkuliahan saya pulang ke kampung halaman. Saya menyempatkan untuk pergi ke sebuah desa di punggung Gunung Muria, yang merupakan salah satu tujuan saya untuk melepas penat. Saya taruh laptop di tas, kupakai celana trining serta sendal gunung andalan, saya berangkat menuju desa wisata Rahtawu. Kurang lebih 45 menit perjalanan dari desaku di Jekulo. Seperti biasa, saya mampir di warung kopi di pinggir jurang. Saya pesan kopi kepada Bapak-Bapak yang nampaknya sudah tak asing lagi bagi saya. Sembari menunggu pesanan siap, saya membuka laptop yang ada di tas. Saya nyalakan laptop dan “niki mas, kopinipun” kata Bapak tersebut sambil memberikan secangkir kopi pesanan saya. “Nggih, maturnuwun Pak” saya menjawab. Saya seruput sedikit kopi hitam ini..sruputtt..hmm segar sekali. 😀

Kopi hitam panas memang paling cocok dengan suasana di desa ini yang dingin dan sejuk, apalagi ini adalah kopi Muria yang berasal dari sekitar sini juga. Saya teringat akan informasi teman se-komunitas tentang lomba blog dalam rangka ulang tahun kota ini. Terbersit bisikan untuk ikut meramaikan sebagai wujud cinta kepada kota ini. Saya ambil satu pisang goreng, karena memang sudah lapar, hehe. Saya pindah tempat duduk menjadi menghadap jurang dengan background pepohonan warna hijau, sambil melihat burung-burung beterbangan, ditambah angin gunung yang sepoi-sepoi hmm damai sekali rasanya. Menghirup nafas rasanya sangat ringan, berbeda sekali dengan suasana di kota. Dengan ditemani secangkir kopi hitam dan pisang goreng, saya mulai menulis artikel ini. Inilah opini Kudusku dari sudut pandang Blogger pecinta kopi :

Artikel ini aku persembahkan sebagai peringatan hari lahir kota kelahiranku. Kudus. Hmm, mendengar nama kota ini saja pasti sudah ada dua hal yang ada dalam pikiran kita: kretek dan Sunan Kudus. Tidak sepenuhnya salah, karena kota yang menjadi ibukota Kabupaten Kudus ini memang memiliki julukan sebagai Kota Kretek. Plus, Kudus menjadi salah satu pusat berkembangnya agama Islam di abad pertengahan. Terletak di jalur pantai utara Jawa Tengah dengan jarak sekitar lima puluh satu kilometer dari timur Kota Semarang, masih banyak hal yang bisa dikulik dari kota yang sebelumnya bernama Tajug ini. Nama Kudus sendiri berasal dari Bahasa Arab Al-Quds yang berarti suci. Nama ini diberikan oleh Ja’far Shadiq atau yang biasa disebut Sunan Kudus ketika beliau berdakwah dan membangun masjid di sana pada tahun 1549 Masehi atau 956 Hijriyah. Masjid tersebut sampai kini masih berdiri tegak dengan nama Masjid Menara Kudus. Berdirinya Masjid Menara Kudus ini juga diperingati sebagai hari jadi kabupaten Kudus, yakni pada 23 September setiap tahunnya.

Secara geografis, wilayah kabupaten Kudus didominasi oleh dataran rendah. Beberapa pegunungan berada di sebagian wilayah utara. Di antaranya yang terkenal adalah Gunung Muria dengan puncak Gunung Saptorenggo (1602 mdpl), Gunung Argojembangan (1410 mdpl) dan Gunung Rahwatu (1522 mdpl). Sungai terbesar di kabupaten Kudus adalah Sungai Serang yang membatasi Kabupaten Kudus dengan Kabupaten Demak. Kudus juga dibelah oleh Sungai Gelis tepat di tengah sehingga muncul istilah Kudus Barat dan Kudus Timur. Pembagian administratifnya sendiri terdiri dari sembilan kecamatan, seratus dua puluh tiga desa dan sembilan kelurahan. Pusat pemerintahannya ada di Kecamatan Kota Kudus. Terdapat tiga pembagian wilayah kawedanan di Kudus, yaitu Kawedanan Cendono, Kawedanan Kota dan Kawedanan Tenggeles. Ke depannya, akan ada penambahan kecamatan baru yakni kecataman Kota Kudus Timur, Kota Kudus Barat dan Muria sebagai pemecahan dari Kecamatan Dawe. Kudus juga menjadi kabupaten dengan jumlah kecamatan paling sedikit dan wilayah paling kecil di Jawa Tengah sehingga lebih cocok disebut kota daripada kabupaten.

Kudus kini sudah kian dibenahi. Masalah tata ruang kota diperhatikan secara serius oleh pemerintahnya. Hal ini terbukti dari ditambahnya ruang terbuka hijau seluas lima ribu meter persegi. Ruang terbuka hijau ini berada di Kelurahan Purwosari, Kecamatan Kota, Kudus dan juga dilengkapi dengan beragam fasilitas pendukung. Tanah yang tidak produktif digunakan sebagai ruang terbuka hijau ini. Beragam fasilitas yang ada di dalamnya antara lain adalah sarana air bersih, lampu hemat energi, tempat pengolahan sampah organik dan anorganik, komunitas hijau serta tempat parkir sepeda. Pembangunan ruang terbuka hijau ini merupakan bagian dari Progam Pengembangan Kota Hijau (P2KH) yang dilaksanakan oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Ditjen Penataan Ruang. Dana yang dikucurkan untuk program ini pun tak main-main. Angkanya mencapai delapan ratus lima puluh juta rupiah. Ruang terbuka hijau ini merupakan yang kedua di Kudus setelah sebelumnya ada pula di Desa Rendeng, Kecamatan Kota.

Untuk soal kebersihan kota, Kudus tercatat pernah menerima penghargaan Adipura Kencana sebagai Kota Kecil Terbersih pada tahun 1996 silam. Piagam Adipura ini diletakkan di Taman Tugu Adipura, tepatnya di Jalan AKBP Agil Kusumadya dan Jalan Grobogan-Demak. Berada di antara deretan fasilitas umum seperti pertokoan dan kawasan kuliner, Taman Tugu Adipura tampak begitu mempesona dengan pepohonan rindang yang tumbuh lebat di dalamnya. Akses jalan yang bersih dan adanya pagar besi pelindung menjadi daya tarik tersendiri bagi paran pengunjung yang ingin menghabiskan waktu di dalam taman ini. Tak heran rasanya jika Taman Tugu Adipura menjadi salah satu objek wisata alternatif di Kudus. Murah dan menawarkan kesejukan udara berkat rimbunnya pepohonan, taman ini kerap dikunjungi pada sore hari atau ketika akhir pekan. Keberadaan taman ini juga seolah sebagai pengingat pada masyarakat Kudus untuk selalu menjaga kebersihan lingkungan di sekitar tempat tinggal mereka.

Pembangunan infrastruktur kesehatan di Kudus pun sudah bisa dibilang memuaskan. Terdapat sedikitnya tujuh rumah sakit sebagai tempat memperoleh layanan kesehatan di Kudus. Di desa Jati Kulon terdapat tiga rumah sakit yaitu RS Mardi Rahayu, RSUD Kudus dan RSIA Siti Khadijah Kudus. Di desa Mijen terdapat dua rumah sakit yaitu RSU Kumala Siwi dan RS Kartika Husada. Dua rumah sakit lainnya yaitu RSI Sunan Kudus di desa Garung Lor dan RSU Aisyiah di desa Hadipolo. Bagi penduduk yang kurang mampu disediakan layanan dasar kesehatan gratis. Sebagian dari kabupaten Kudus telah melayani jaminan kesehatan seperti Jamkesmas, Jamkesda dan JKN bagi para tenaga kerja. Bahkan pada tahun 2015 ini pemerintah Kabupaten Kudus telah mengupayakan anggaran khusus untuk pelayanan kesehatan di puskesmas serta rumah sakit kelas III bagi warga yang tidak mampu. Tak sampai di situ, pemerintah Kabupaten Kudus juga menyediakan program santunan kematian khusus warga tidak mampu. Tujuannya tentu untuk meringankan beban keluarga yang ditinggalkan.

Untuk mendapat layanan kesehatan gratis, warga Kudus hanya perlu menunjukkan e-KTP serta surat rujukan dari puskesmas. Surat rujukan ini penting karena sebenarnya tidak semua keluhan kesehatan harus ditangani di rumah sakit. Selain itu, kondisi penyakit yang berbeda maka penanganan yang harus diberikan juga pasti berbeda pula. Jika puskesmas tidak bisa menangani barulah pasien yang bersangkutan mendapat rujukan untuk berobat di rumah sakit terdekat. Selain itu, pemerintah juga ingin kembali menghidupkan fungsi puskesmas di desa dan kelurahan. Fasilitas yang disediakan di puskesmas juga sudah terbilang memadai. Puskesmas kini telah melayani rawat inap dan tersedia tenaga dokter, bidan, perawat serta obat-obatan yang lengkap dan memadai. Tujuan lain tentu supaya masyarakat bisa lebih cepat mendapat penanganan pertama serta mendekatkan masyarakat pada pengobatan. Dan bagi warga yang dirujuk ke rumah sakit serta mendapat bantuan kesehatan gratis memang benar-benar pantas dan layak untuk mendapatkannya.

Selain dari segi tata ruang kota dan ketersediaan infrastruktur kesehatan, Kudus juga layak diacungi jempol berkat perhatian di bidang pendidikan yang diberikan oleh pemerintahnya. Program wajib belajar dua belas tahun telah berhasil dicanangkan di kota ini. Seolah tak mau berhenti sampai di situ, Bupati Kudus H. Musthofa menambahkan layanan pendidikan dengan pemberian beasiswa kuliah. Hal ini lantaran Bupati Kudus menilai bahwa banyak warganya yang ingin menikmati pendidikan hingga level perguruan tinggi namun terbentur masalah biaya. Lewat program ini nantinya warga Kudus dapat menikmati bangku perguruan tinggi secara gratis. Bahkan, bukan hanya biaya kuliah yang digratiskan tapi juga biaya kos bagi calon mahasiswa yang berasal dari luar kota. Namun, tentu saja untuk mendapatkan beasiswa ini tidak mudah. Ada beberapa kriteria yang dibutuhkan untuk mendaftar, antara lain adalah prestasi akademik yang bagus serta perilaku baik di kehidupan sehari-hari.

Dari segi pendidikan informal, Kudus memiliki Yayasan Rumah Pintar Wanabakti Manunggal yang berpusat di Desa Papringan, Kaliwungu, Kudus. Program Indonesia Pintar ini dirancang dengan berbagai fasilitas dan sentra yang terdapat di dalamnya. Sentra Buku, contohnya, adalah tempat di mana terdapat berbagai jenis buku dengan koleksi mencapai lima ribu eksemplar. Tujuannya tak lain adalah untuk meningkatkan minat baca dan memberi pengetahuan serta edukasi bagi masyarakat. Sentra Bermain dan Permainan menjadi ajang khusus bagi anak usia dini untuk mengembangkan potensi serta kreativitas yang mereka miliki melalui Alat Permainan Edukatif (APE) yang terdapat di dalamnya. Sentra Komputer, sesuai dengan namanya menyediakan fasilitas komputer dengan tujuan untuk mengenalkan teknologi komputer kepada anak-anak dan remaja. Sentra Kriya dirancang untuk memberikan keterampilan hidup dan vokasional bagi masyarakat. Lewat sentra ini diharapkan tercipta peluang usaha baru di masyarakat. Terakhir ada Sentra Audio Visual/Panggung yang khusus ditata untuk membangun rasa percaya diri anak-anak di samping mengembangkan bakat yang mereka miliki.

Hal yang tak kalah penting lainnya dari proses pembangunan sebuah kota ialah tersedianya pelayanan administrasi yang baik dan memadai. Pelayanan administrasi ini mencakup pembuatan Kartu Tanda Penduduk (KTP), Kartu Keluarga (KK) serta Akta Kelahiran. Di Kabupaten Kudus sendiri wilayah desa atau kelurahan dijadikan sebagai basis pelayanan sehingga lebih dekat dengan lokasi tempat tinggal masyarakat. Ini tentunya akan mempermudah proses pelayanan pembuatan KTP. Terhitung sejak 2008, sebanyak seratus dua puluh tiga desa dan sembilan kelurahan di Kabupaten Kudus telah melayani pembuatan KTP cepat dengan proses hanya sekitar empat sampai lima menit saja. Pembuatan KTP ini juga tidak dipungut biaya alias gratis. Sistem ini terbukti mampu meminimalisir KTP ganda serta meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memiliki Kartu Tanda Penduduk.

Sebelum tahun 2008, terdapat beberapa kendala yang dialami masyarakat tiap kali hendak mengurus Kartu Tanda Penduduk. Mulai dari proses pelayanan yang terbilang memakan waktu lama, proses yang rumit dan kurang bisa dimengerti, keterbatasan informasi dari pemerintah untuk masyarakat hingga tingkat kesadaran masyarakat yang masih rendah akan KTP itu sendiri. Banyaknya kelemahan dalam sistem pelayanan ini mengakibatkan sering ditemukannya dokumen ganda, seperti satu orang memiliki lebih dari satu KTP atau KK. Imbasnya adalah pada ketidakakuratan data kependudukan serta berpengaruh besar pada proses penyusunan dan pengambilan kebijakan. Sejak saat itulah dilakukan perubahan pada Sistem Administrasi Kependudukan (SIAK) dalam pelayanan KTP oleh pemerintah. Pelayanan pembuatan KTP yang awalnya dilakukan di kecamatan dipindah ke desa atau kelurahan. Jarak yang semakin dekat dengan tempat tinggal tentu membuat masyarakat lebih mudah mengakses dan mengurus surat-surat identitas ini.

Hingga kini, prosedur pelayanan KTP cepat telah diberlakukan di seratus dua puluh tiga desa dan sembilan kelurahan. Dampaknya, kini sebanyak sembilan puluh sembilan persen warga Kudus telah memiliki KTP. Tidak jauh beda dengan e-KTP alias KTP Elektronik yang baru-baru ini menjadi kebijakan baru Kementerian Dalam Negeri, sembilan puluh satu persen warga Kudus juga telah memilikinya. Database kependudukan makin akurat dan diperbarui tiap bulannya sesuai dengan data terbaru. Dampak positif lainnya adalah pada proses penyusunan serta pengambilan kebijakan akan lebih tepat sasaran. Di masa yang akan datang, Kudus dapat semakin maju berkat peningkatan pelayanan di bidang pengurusan surat-surat kependudukan seperti ini.

Sayangnya, pembangunan Kudus yang sudah sedemikian pesat belum merata sampai ke pelosok pedesaan. Jika di daerah kotanya kita bisa menikmati pemandangan asri plus modern dengan banyaknya kawasan pertokoan hingga perbankan, maka semakin masuk jauh ke kawasan pedesaan yang akan kita temukan justru adalah jalanan yang rusak. Pembangunan infrastruktur daerah pinggiran ini terlihat masih sangat tertinggal jauh dengan daerah kota. Belum banyak masyarakat desa yang menikmati jalan beraspal. Daerah Mejobo, misalnya, banyak jalan berlubang dan rusak akibat diterjang banjir. Tak hanya itu, jalan alternatif yang menghubungkan Kudus dengan Pati di Desa Babalan pun rusak dan berlubang sehingga menyulitkan pengendara motor yang hendak melintas.

Anggaran untuk perbaikan jalan memang tak semurah yang dibayangkan. Butuh dana hingga triliunan rupiah untuk memperbaiki jalan dan jembatan umum. Sementara pemerintah Kudus hanya sanggup menggelontorkan dana sekitar delapan puluh sampai sembilan puluh miliar per tahun untuk perbaikan jalan. Alternatifnya, mereka membuat skala prioritas, jalan mana yang harus diperbaiki terlebih dahulu dan mana yang bisa diperbaiki nanti. Apalagi, kerusakan jalan seperti ini hampir pasti terjadi tiap tahun lantaran jalan dan jembatan tersebut merupakan fasilitas umum yang dipakai setiap hari. Tambahan lagi, beban tonase dari kendaraan-kendaraan yang melintas selalu meningkat setiap tahunnya. Di akhir 2014 lalu saja tercatat masih ada 70 kilometer jalan rusak berat. Angka ini sebenarnya sudah cukup menurun dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2012 tercatat ada 94 kilometer jalan rusak dan di 2013 sebanyak 102 kilometer jalan rusak. Pemerintah Kudus menargetkan perbaikan ini akan selesai pada 2018 mendatang. Ratusan kilometer jalan rusak akan diperbaiki dengan proyek publik dan mekanisme pembenahan rutin.

Senja di Puncak Gunung Muria

Senja di puncak Gunung Muria. ( photo: kaisarlawu )

Seolah belum cukup dengan kerusakan jalan di pedesaan, Kudus juga masih punya PR lain terkait dengan kondisi alamnya. Gunung Muria sebagai salah satu tujuan pendaki di kota ini mengalami kegundulan hingga 85% di tahun 2010. Tak hanya itu, sebanyak 40% lahan di Muria atau sekitar 114 hektar lahan juga memiliki tingkat kemiringan lebih dari 40 derajat tanpa vegetasi. Hal ini menyebabkan rawan terjadinya longsor, terutama di dua kecamatan yakni Kecamatan Dawe dan Kecamatan Gebog yang terletak persis di lereng Gunung Muria. Curah hujan di Gunung Muria pun terbilang tinggi, yakni sebesar 3500 sampai 4000 mm per tahun. Dengan kondisi sebagian besar gunung tidak berhutan dan tanahnya merupakan tanah liat yang susah menyerap air serta struktur geografisnya yang bertebing lumayan curam, tak mengherankan jika terdapat sedikitnya 600 kepala keluarga yang rentan menjadi korban tanah longsor.

Pekerjaan rumah lain yang harus cepat dibenahi Kudus adalah nasib tim sepakbola kebanggaan kota ini, Persiku. Klub berjuluk Macan Muria ini belum bisa menampilkan performa terbaiknya dalam pertandingan Divisi Utama Liga Indonesia. Kekalahan beruntun yang harus mereka peroleh merupakan awal buruk bagi tim. Setelah dikalahkan PSCS Cilacap dengan skor tipis 0-1, Persiku kembali harus menerima kekalahan dari Persikabo Bogor dengan skor lumayan telak 0-5. Namun dengan semua hasil buruk ini, penggemar Persiku yang menamakan diri mereka Supporter Macan Muria atau SMM tetap setia mendukung klub jagoannya ini. Walau, tentu saja Persiku masih harus banyak berbenah demi memperbaiki performa di pertandingan-pertandingan selanjutnya. Pegel juga ya ternyata mau ngetik 2500 karakter, hahaha. Minum kopi lagi ahh.. By the way, kopi ini bener-bener enak lho. Saya tanya kepada Bapak yang jual, katanya kopi ini di produksi oleh tetangganya sendiri. Biji kopinya pun berasal dari gunung Muria langsung. Anda tertarik untuk mencoba? seger sumpah haha 😛 Oke lanjut.

Terlepas dari semua masalah yang membayangi Kudus, Kota Kretek ini tetap menjadi salah satu tujuan wisata favorit turis domestik. Menara Kudus sebagai bangunan monumental dengan nilai arkeologis dan historis tinggi menjadi daya tarik utama wisatawan. Terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Kota, sekitar satu setengah kilometer jauhnya dari arah barat pusat kota, Menara Kudus berdiri tegak menyapa setiap wisatawan yang datang berkunjung. Dengan ciri khas bangunan hasil penggabungan kebudayaan Islam dan Hindu-Jawa, Menara Kudus tampak mencolok dengan tinggi sekitar tujuh belas meter dan bentuk menyerupai candi era kerajaan Majapahit. Terbuat dari susunan batu bata yang dipasang secara bertumpukan tanpa menggunakan perekat, bangunan ini merupakan simbol Islam toleran di mana Sunan Kudus dulunya menyebarluaskan agama Islam di kota ini dengan tetap menghormati pemeluk agama Hindu yang memang masih menjadi mayoritas kala itu. Obyek wisata ziarah ini terutama ramai pada saat acara buka luwur, yaitu prosesi penggantian kelambu di atas makam Sunan Kudus, yang biasanya dilaksanakan pada tanggal 10 bulan Suro.

Selain Menara Kudus, Kota Kretek ini masih menyimpan segudang obyek wisata lain yang tak kalah menarik. Salah satunya adalah Museum Kretek di Desa Getas Pejaten Kecamatan Jati Kudus yang dibangun khusus sebagai simbol Kudus sebagai Kota Kretek. Sesuai namanya, Museum Kretek menyimpan beragam koleksi benda-benda yang masih berhubungan dengan perkembangan rokok atau kretek dari masa ke masa. Sebut saja mulai dari aneka peralatan pembuatan rokok tradisional zaman dahulu sampai dengan beragam jenis sarana promosi produk rokok pada masa tersebut. Masih dari Desa Getas Pejaten, ada pula Tugu Identitas Kudus yang merupakan salah satu lokasi pertempuran antara pejuang kemerdekaan Indonesia di Kudus melawan penjajah. Dibangun pada tahun 1986 dengan tinggi dua puluh tujuh meter, tugu ini sering pula dijadikan sebagai obyek wisata karena nilai historisnya yang tinggi.

Wisata religi lain di Kudus adalah Makam Sunan Muria di puncak Gunung Muria. Lokasi ini dapat dicapai dengan cara berjalan kaki melewati sekitar tujuh ratus undak-undakan tangga dari pintu gerbang. Jika dirasa terlalu melelahkan, kita masih bisa mencapainya dengan menaiki sepeda maupun motor ojek. Obyek lainnya di puncak Gunung Muria adalah Goa Jepang. Dibuat oleh para tenaga kerja paksa pada zaman penjajahan Jepang atau yang lebih dikenal dengan nama Romusha, goa ini memiliki panjang seratus meter, lebar dua meter serta tinggi dua meter. Banyaknya lokasi wisata dengan berbagai pilihan, mulai dari wisata religi sampai wisata modern dengan nilai historis tinggi, membuat Kudus bisa makin bersinar sebagai tujuan wisata di Jawa Tengah. Upaya pemerintah dalam memajukan kawasan-kawasan wisata ini juga perlu ditingkatkan supaya wisatawan yang berkunjung tidak akan bosan dan kapok mendatangi titik-titik terpopuler Kudus.

Penambahan fasilitas yang memadai serta sarana transportasi dan akomodasi yang cukup menjadi suatu keharusan supaya obyek-obyek wisata ini dapat makin terkenal dan mengangkat nama Kudus sebagai tujuan wisata baru di Jawa Tengah. Perbaikan di beberapa titik, khususnya di Gunung Muria yang sudah gundul dan rawan longsor juga perlu untuk dilakukan demi keselamatan dan kenyamanan warga maupun wisatawan. Apalagi, Kudus sebagai Kota Santri sekaligus Kota Kretek juga pastinya memiliki daya tarik tersendiri bagi wisatawan untuk datang berkunjung. Potensi pariwisata yang dimaksimalkan juga dapat menambah pundi-pundi pendapatan daerah dan tentunya meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Harapanku …

Ternyata pengalaman menjadi salah satu dari anggota paguyuban duta wisata kabupaten Kudus tidak sia-sia ya. Saya sedikit banyak tahu potensi-potensi pariwisata di Kudus. Dan ketika saya berada di perantauan saya di Jogja, saya selalu mempromosikan tempat-tempat wisata di Kudus. Bahkan bulan depan rencananya saya dan beberapa teman saya dari berbagai daerah mau berlibur di kota ini. Kota Kudus, kamu adalah tempat dimana aku dilahirkan. Aku juga besar di kota ini. Tunjukkan keindahanmu kepada dunia, jadilah kota terbaik di republik ini. Harapan saya, harapan semua warga kudus, semoga pemimpin-pemimpin kota ini adalah pemimpin yang sebenar-benarnya pemimpin. Mempunyai tekad tulus untuk memajukan kota kecil ini. Memajukan ekonomi, pariwisata, bahkan juga kesejahteraan masyarakat. Akhir kata saya ucapkan, Dirgahayu Kota Kudus yang ke-466. Semoga kamu menjadi lebih baik lagi dalam segala aspek! Kami menantimu di kancah Internasional. I Love Youuuuu….

Puncak 29 Gunung Muria

Saya dan ketiga teman saya ketika berhasil sampai ke puncak 29, puncak tertinggi Gunung Muria. Dan mengibarkan sang saka Merah Putih di pagi hari. Bergetar rasanya jiwa ini. 🙂

 

Adjie Purbojati

Adjie Purbojati

http://purbojati.my.id/

Dia suka nge-blog semenjak kelas 2 SMP. Dan sampai sekarang masih berkutat dengan hal tersebut.

There are no comments.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

View Comments (0) ...
Navigation