Adjie Purbojati Blog

Chit-Chat

Gerhana Matahari di Indonesia, Saat-Saat Sang Purnama di Makan Raksasa

Posted on .

Gerhana Matahari di Indonesia, Saat-Saat Sang Purnama di Makan Raksasa

Introduction

Apa kabar? Akhirnya saya bisa menulis di blog sederhana ini kembali. Kali ini saya ingin bercerita tentang gerhana matahari total.

Waktu itu saya masih umur sekitar 7 tahunan, dan saya masih duduk di bangku sekolah dasar. Setiap malam ketika seusai sholat isya’, saya selalu berada di samping nenek saya. Masih teringat kala itu beliau menceritakan tentang gerhana matahari. Hal yang memang belum pernah aku pelajari di saat masih bangku kelas 3 sekolah dasar. Samar-samar saya teringat ceritanya waktu itu, namun saya masih ingat beberapa inti ceritanya. Beliau mengatakan bahwa saat gerhana matahari, matahari pada siang itu menghilang. Karena roh jahat yang berukuran raksasa memakan matahari tersebut. Dan keadaan menjadi gelap gulita, disaat itu semua roh jahat keluar dari sarangnya untuk mencari anak-anak nakal yang nekat keluar rumah. Dengan alasan tersebut-lah, saya dilarang keluar setiap terjadi gerhana. “Jik..ning omah wae, aja metu-metu” nenek saya bilang kepada saya, yang artinya “Dirumah saja, nggak usah keluar-keluar”. Terkadang saya hanya melihat suasana dari dalam kamar, dan mengintip dari jendela nako kala itu.

Menilik ke belakang, yakni pada tanggal 11 Juni 1983 yang kala itu negeri ini di pimpin oleh presiden Soeharto, Indonesia mendapatkan fenomena langka, yakni “raksasa memakan matahari”. Kala itu pemerintahan orde baru melarang keras masyarakat Indonesia untuk melihat gerhana matahari secara langsung. Dengan dalih dapat mengakibatkan sakit mata, bahkan tiada dapat disembuhkan katanya. Akhirnya semua masyarakat percaya, dan hari yang gelap saat itu, mereka hanya bisa menonton melalui tayangan televisi, itu-pun secara rombongan karena pada saat itu televisi belum sebanyak sekarang.

Gerhana Order Baru

Larangan melihat GMT secara langsung pada zaman ORBA. gambar: detik.com

Kemudian saya berfikir, hubungan larangan tersebut dengan cerita nenek saya. Saya menduga nenek saya-pun termakan berita pada zaman orde baru tersebut. Yah, yang namanya nenek kan pasti sudah tua, ya pasti beliau mengalami pada hari itu secara langsung dong. Makanya nenek saya pun melarang saya untuk keluar di saat ada gerhana matahari.

Gerhana Matahari Dalam Sudut Pandang Sains

Menurut pelajaran yang saya dapat ketika saya masih duduk di bangku SMP, guru IPA saya yang bernama Pak Sutantriyo, menjelaskan bahwa gerhana matahari total terjadi manakala cahaya matahari yang ke bumi, terhalang oleh bulan. Mari kita ibaratkan dengan lampu kamar. Coba lampu kamar nyalakan, dan kamu ambil sebuah barang, buku misalnya. Kamu duduk lurus tepat di bawah lampu tersebut. Kemudian kamu lihat keatas, dan buku taruh diatas matamu, apa yang kamu lihat? gelap? exactly. Pada percobaan tersebut, lampu kamar sebagai mataharinya. Buku sebagai bulan yang menghalangi. Dan mata kamu sebagai bumi. Itulah gerhana matahari total menurut ilmu pengetahuan.

Jadi apakah aman melihat GMT?

Kata koordinator kegiatan Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) Nurdiasnyah di Planetarium Jakarta, seperti yang dikutik Detik.com. Aman-aman saja untuk melihat GMT dengan mata telanjang, namun jangan terlena untuk melihat terus tanpa mengalihkan pandangan ke sekitar. Dikarenakan radiasi cahaya tersebut juga berbahaya. Begitu . . .

Lalu, bagaimana dengan sudut pandang islam?

Gerhana matahari atau Khusufusy Syams dalam islam, merupakan sebagai wujud kebesaran Allah SWT. Gerhana matahari memberikan peringatan kepada seluruh kaum mukminin agar senantiasa taat kepada Allah, meyakini keberadan-Nya dan sekaligus sebagai peringatan akan azab yang bisa kapan saja diberikan. Nabi Muhammad SAW mengajarkan kepada kita semua umat islam, ketika terjadi gerhana matahari agar melakukan beberapa hal berikut: shalat gerhana, berdoa, beristighfar, bertakbir, berdzikir, bershadaqah, memerdekakan budak.  Kata nabi:

”Apabila kalian melihat (gerhana) matahari atau bulan, maka berdoalah kepada Allah dan shalatlah.”

Tradisi dan mitos ketika terjadi GMT di beberapa daerah di Indonesia

Memukul Lesung

Memukul Lesung

1. Jawa

Memukul-mukul lesung padi ketika gerhana matahari sebagai simbol memukul-mukul jasad sang raksasa yang masih hidup itu dengan tujuan sang raksasa akan merasa mual sehingga matahari yang ditelannya akan dimuntahkan lagi. ( baca: Gejog Lesung, Tradisi Sambut Gerhana di Yogyakarta )

2. Palembang

Mitos yang ada di Palembang adalah, konon ada naga dari dalam Sungai Musi yang akan muncul saat gerhana matahari. Kehadiran naga tersebut dipercaya bakal memakan matahari di atas langit.

3. Tidore

Tradisi memukul kentongan dari bahan bambu secara bersamaan saat terjadinya gerhana matahari, tradisi Dolo-Dolo namanya. Yang bermaksud untuk mengusir raksasa yang memakan matahari.

 

Gerhana Matahari Total di Indonesia Tahun 2016

Setelah 21 tahun lamanya, tepatnya sejak tanggal 24 Oktober 1995 akhirnya gerhana matahari total “pulang kampung” ke Indonesia. GMT ( gerhana matahari total ) akan melintasi langit Indonesia pada hari Rabu, 9 Maret 2016. Ada beberapa kota yang menjadi istimewa, karena disana masyarakat bisa melihat GMT dengan maksimal, bahkan dengan kegelapan sampai dengan 99%, yakni: Lubuk Linggau, Palembang, Toboali, Koba, Manggar, Tanjung Pandan, Palangkaraya, Balikpapan, Sampit, Palu, Poso, Ternate, Tidore, Sofifi, Jailolo, Kao, dan Maba. 

Sebagai daya tarik wisata, kenapa tidak?

Perlu Anda ketahui, bahwa Indonesia merupakan satu-satunya daratan di dunia yang bisa menyaksikan gerhana matahari total. Dan di Maba, Halmahera Timur, sebagai lokasi perlintasan terlama yakni ( 3 menit 17 detik ). Pemerintah melalui kementerian pariwisata-pun tak mau ketinggalan untuk menjaring wisatawan sebanyak-banyaknya. Bahkan saking bersemangatnya, PT Pelni berencana menyediakan tiga kapal besar sebagai hotel terapung di Bangka, Belitung, Palu, dan Ternate. Bujubusett . . .

Jika Anda adalah salah satu yang ingin melihat fenomena GMT secara langsung, saya memiliki beberapa tips yang dapat membuat pengalaman Anda semakin greget.

Jangan Begadang Pada Malam Sebelumnya

Lho, ini penting. Karena jika malam sebelumnya Anda begadang, saya takut jika nanti ketika akan menonton GMT, Anda malah ketiduran ditempat tersebut. Kan malah ndak jadi nonton.

Persiapkan kacamata atau filter, atau kertas HVS bolong-bolong 

Sinar cahaya matahari itu memiliki radiasi yang cukup berbahaya jika terkena mata secara langsung. Oleh karenanya, saya sarankan untuk membawa kacamata. Atau jika ingin lebih ekonomis, Anda bisa membawa kertas HVS dan nantinya Anda bolong-bolong kertas tersebut dengan tusuk gigi. 😀

Siapkan Camilan, Kacang Boleh Juga

Menunggu adalah salah satu hal yang membosankan bukan? Nah besuk, disaat Anda menunggu agar tidak bosan, ada baiknya sambil memakan camilan. Namun diantara berjuta camilan, kacang adalah favorit saya.

Bawalah Kamera, Agar Bisa Selfie

Nah ini salah satu sindrom saya dan mungkin Anda juga, yakni selfie dengan hal unik atau langka. Selain itu, foto dokumentasi juga bisa digunakan sebagai kenang-kenangan, kan GMT ini nggak terjadi tiap tahun.

Nah diatas adalah beberapa tips yang dapat saya sampaikan, jika ada yang kurang, lebih asyiknya lagi jika Anda ingin menambahkan di kolom komentar, hehe. Saya semakin bangga dengan Indonesia. Anda bagaimana? Sudah tidak takut untuk melihat gerhana matahari, kan? 😛

 

Adjie Purbojati

Adjie Purbojati

https://purbojati.my.id/

Adalah seorang mahasiswa yang berusia 19 tahun. Dia suka nge-blog semenjak kelas 2 SMP. Dan sampai sekarang masih berkutat dengan hal tersebut.

There are no comments.

Leave a Reply

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <s> <strike> <strong>

View Comments (0) ...
Navigation